Newest Articles

Rabu, 29 Februari 2012

Cuap-cuap Malam

Membuat catatan tangan (eh, footnote ya) di malam yang dingin, tanpa gemintang. Meski tak berlalu dalam kelam aku terlalu sibuk dengan telingaku yang pasti lebih sibuk dengan berbagai suara yang berdesakan mengirim impuls. Seandainya aku telinga, betapa lelah.

Bukannya mau ngelantur kemana kemari saja, tapi memang keadaan dan kondisinya sedang enak untuk diajak ngelantur sambil terbentur-bentur ke kontur-kontur kata yang tak teratur. Makin ngawur aja.

Kembali ke topik impuls yang berdesakan (flashback gitu), waktu yang seperti dan rasa-rasanya lengang ternyata telah menghimpit hingga tinggal berapa inci lagi aku pasti terjepit. Semoga sebelum itu terjadi aku sudah menemukan "AKAR" kehidupanku (weleehhh, novelnya mbak De'e ni).

Oh, iya Impulsnya lupa dibahas, kurang tertarik pada impuls dan lebih tergelitik untuk membahas relativitas. Ada yang khusus berarti ada yang umum juga, hehe. BUkan bermaksud mencela atau bagaimana terhadap datuk Einstein, tapi dengan teori yang satu ini dunia menjelang kehancuran.

Mengapa demikian daku berkata ? Kerana tak lain dan tak bukan, teori itu membangkitkan inovasi pembuatan senjata pembunuh massal. Yang jadi monyet percobaan pun Jepang (kok., monyet?) Walaupun hikmahnya baik untuk Indonesia, tapi radioaktifnya masih ter-smell orang-orang yang ada di sana. Padahal itu udah berapa tahun? Lama bukan? Bukan.

Jangan bingung dengan argumen ini, hanyalah sebuah intrik pengusir bosan plus sedikit mengistirahatkan telinga dengan lebih memfokuskan ke mata. Kasihan aku pada telingaku, disini terlalu ribut. Mataku, bukannya daku tak berkasihan, tak bermaksud daku berkasih pilih pada indra yang daku punya, hehe.

Sudahlah, ini bukan filosofi maupun kata-kata sang sufi. Saya hanya budak kecik nan senang bercuap tak sampai. Menyampaikan sedikit yang mendera di jantung. Terima kasih laptopku, aku selesai juga menulis cuap tak beralasan ini.

Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar