Newest Articles

Rabu, 29 Februari 2012

Aku Mahkota Metamorfosa...

(Prolog Pengantar Sejarah Masa Depan)
Pagi dingin hari baruku di luar kepompong emasku. Kukepakkan sayapku pelan. Aku baru dengan sayapku, mencoba menjelajah dunia hinggap lekat di permata sebuah mahkota. Pagi itu aku melihat Elfira mengangguk tertegun dengan kilatan keemasan mahkota tertempa mentari pagi, terkelebat kembali cerita-cerita mereka, cerita mereka sang permata mahkota metamorfosa.
Dalam kilauan keemasan itu tertera beberapa nama yang masih utuh jiwa mahkota metamorfosa sejati. Endang, Winda dan Desti masih tak bergeming lengkap layaknya kata yang jarang mereka ungkap, masih membungkam beribu berita dalam diri mereka sendiri. Kilat-kilat keeemasan itu kini terbaur terserak bersama kerling-kerling mentari pagi ini.
Selang waktu, Willa menghampiri gadis yang tertegun itu. Dengan bangganya menyampaikan berbagai informasi yang didapat dari Rezkia dan Rizka yang saat ini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris. Mereka baru saja mendapat kabar bahwa Rico, Luli dan Tria baru saja mendapatkan hak paten atas beberapa Software terbarunya.
Apakah kau sadar? Saat terbaca olehmu cerita ini, adalah cerita lalu untuk 10 tahun di depan. Cerita ini adalah perjalanan hidup Metamorfosa sebuah mahkota yang telah bersayap indah, kini kembali hinggap di rimbun pohon homogen SMAN Pintar Kuantan Singingi. Ketika aku kembali mengembangkan sayap ke waktu yang lalu, di sana ada beberapa nama yang begitu gemulai mengolah gesturenya. Mereka adalah Laila, Friska, dan Lola. Tidak banyak yang kuingat, hanya saja banyak orang tercengang karena lengkukannya.
Aku sang mahkota metamorfosa masih terus mengembangkan sayap dalam sedu sedan masa, terlintas sebuah nama yang tak bungkam oleh dentum waktu, MY FANT GEN 09. Dengan jutaan permata-permata yang masih berada dalam kungkungan kepompongnya, meski di sana ada Eka Ardila Pandy yang terlanjur rapuh. Mereka layaknya pesona solek Resti, Sella atau Sity yang merona. Sementara masih dengan sayapku yang terlebar, dari balik jendela kecil itu kulihat Famber yang sibuk dengan berbagai larutan dan tabung reaksinya dalam ruang kecil yang mereka sebut Labor. Tak jauh dari sana, ada Darwan dan Wanti yang mengalunkan denting-denting kehidupan dengan merdunya.
Aku sang mahkota metamorfosa kembali melayang disela pepohonan hijau. Melayang merebakkan segar dan kenyamanan untuk Syukur, Zery, dan Ircham yang sedang kelelahan setelah menaburkan benih dan akar ke bumi untuk menghijaukannya. Sementara Lia masih asyik dengan kamera kecilnya di antara rimbunan pohon-pohon kecil itu. Bergabunglah bersama mereka Kiprah dan Raudha yang juga sedang penat dengan masalah defisit Kas kelasnya. Tidak hanya mereka, di sebalik rentetan daun ini Rifdah juga tengah sibuk dengan note-note kecilnya. Tak sengaja tertangkap di pupil kecilku, Elika dan Sonnya sedang terbaring mendongak memandang barisan awan sambil menggumamkan kata-kata bersajaknya.
Aku kembali melebarkan sayapku, dari kejauhan Rice, Yollanda dan Cindy tengah berlatih berjalan di Catwalk yang merupakan jalan kecil menuju kubah Hijau sakral itu. Hihi.. Bukan Catwalk sejatinya, tapi cukup untuk master modelling masa depan. Sementara di samping-samping jalan kecil itu ada Lilik dan Susanti yang sibuk mengapresiasi dan berkoar-koar tak jelas dengan seriusnya.
Dari pucuk ranting, sepasang indra penglihatku serasa tak mau lepas dari cepat sigapnya putri-putri mahkota yang berlaga itu. Nur Annisa dengan lompatannya, Wiwis dengan lemparannya dan Rika dengan 3 point shootnya yang begitu apik dan indah. Semua gerak dan gerik mereka sungguh masih dalam batas masa lampau yang terekam.
Kembali ke masaku sekarang, beberapa remaja telah berkerumun di sekeliling mahkota yang sedari tadi kuhinggapi. Tak salah lagi, aku mengenal beberapa diantaranya adalah politikus ternama negeri ini. Mereka adalah Yudha, Jessy dan Dian. Beberapa sosok kamera rakyat yang dikagumi.
Tak menghiraukan kerumunan itu, aku mulai melebarkan sayap indahku menuju ruang lain tempat ini. Tak perlu jauh melayang, aku menghampiri sebuah pintu tegar tertutup rapat. Dari lubang kunci kecil ini aku dapat mengintip siapa yang ada dibaliknya. Mereka adalah Efi, Welly dan Wulandari yang seperti sedang asyik berdebat mengenai angka-angka yang tertulis di whiteboard itu. Sedikitpun tak kumengerti, meski dulu aku sering mencuri dengar ketika Pak Feri atau Pak Welly sedang menjelaskan materi itu kepada mereka.
Langkah-langkah kaki terdengar mendekat, sayup dan semakin gamblang aku mendengar percakapan Lida dan Andayanis. Sungguh berita yang memang sangat aku tunggu, Kisna yang mempunyai bakat professor itu telah mematenkan penemuan terbarunya. Tak hanya itu, Ridho dan Delpa juga telah melambungkan mimpinya di belahan dunia ini dengan kalimat-kalimat preventifnya.
Puas sudah dengan mendengar perkembangan pelaku sejarah ceritaku, aku kembali melayangkan sayapku ke bilik-bilik sempit ruang memoriku. Layaknya tak pernah tersakiti oleh ceritaku, bagaimana mungkin itu akan ada sementara dalam ceritaku ada Devi dan Isra yang selalu sigap menetralisir rasa sakitku. Semua cerita ini layaknya skenario yang dibuat Rani dan Yolla dalam cuplik-cuplik gagasannya. Aku merasa tak kan pernah juga rasanya ceritaku ini menjadi seterjal relief bumi seperti kata Nurrahma Dewi.
Aku sang mahkota metamorfosa kembali melayangkan sayap indahku, meniti jembatan-jembatan konjugasi bakteri dalam praktikum Dhaniel, Gustri dan Betty. Benar tak ingin rasanya aku terus kembali ke masa lampau ini, tapi sungguh inilah cerita yang tak lekang oleh zaman seperti yang dikatakan Maysarah dalam sesenggukan air matanya kala itu. Mahkota metamorfosaku akan tetap melenggang melayang, begitu riangnya Ella, Wulan dan Dustri berkata pada hati para permata sayap-sayap sang mahkota metamorfosa itu dengan hati yang sesungguhnya juga tak kuasa.
Aku sang mahkota metamorfosa, dengarkanlah wahai permata-permata sayap indah MY FANT GEN 09. Jika engkau mengingat hari itu, dongakkan wajahmu ke arah barisan awan itu. 12 Juli 2009, hari dimana engkau disatukan dalam perbedaan, menyatukan berbagai problema. Rasakanlah hembusan sayapku, ingatlah kala engkau tertawa bersama, meleraikan air mata, melonjak girang, menunduk lemah. Sungguh aku adalah saksimu, akulah sang mahkota metamorfosa.
Akulah mahkota kupu-kupu itu wahai MY FANT GEN…

Cerpen Anakku "Anak Pacu"

ANAKKU “ANAK PACU”
(Pemenang I Lomba Penulisan Cerpen SMA se-Riau)

Siang yang terik seakan menunjukkan keperkasaan mentari yang sepertinya tak mengerti dengan keadaan berjuta manusia di bumi jalurku ini. Dalam desakan rapat lautan manusia aku masih mencoba untuk bisa sampai ke tempat yang nyaman untukku bisa duduk manis, sambil menyantap makanan yang ada dalam tasku. Sudah menjadi kebiasaanku, sebelum sampai ditribun bagian depan aku tidak akan puas. Masih begitu dan begitu terus yang kualami setiap kali di kotaku ini melaksanakan pesta budaya atau yang disebut Pacu Jalur ini. Yang disebut Pacu Jalur disini adalah balap sampan sepanjang kira-kira 30 meter atau yang disebut jalur. Jalur memiliki lebih dari 40 orang pendayung yang disebut anak pacu.
Setelah beberapa menit berdesakan, akhirnya aku menemukan tempat yang begitu strategis di tribun depan bagian kanan ini. Tepat disamping seorang bapak yang terlihat diam tak berekspresi. Hal yang tak biasa kujumpai dalam acara semacam ini, acara yang hampir kupastikan semua orang akan sekuat tenaga menyemangati jalur andalan mereka. Setelah duduk disampingnya beberapa menit, akuhanya diam, aku makin penasaran dan aku bertanya.
“Maaf, Pak. Sepertinya bapak terlihat murung. Di acara semeriah ini mengherankan ada seorang yang termangu. Adakah sesuatu yang mungkin bisa saya bantu, Pak?”
“Tidak ada apa-apa, Nak. Bapak sedang kurang bersemangat saja.”ujar Bapak itu datar.
“Oh, baiklah kalau Bapak tidak mau cerita.” Aku membalas tanggapan Bapak itu dengan lebih cuek. Tanpa kata aku menyodorkan makanan dari tasku kepada Bapak itu. Dengan gelengan lemahnya aku segera tahu untuk harus tetap diam saja padanya. Walaupun masih penasaran, aku melahap makanan yang kubawa tadi sambil melayangkan pandangan ke depan sana. Terlihat dua buah jalur yang beradu cepat disana.
***
Malam itu Bujang baru sampai dirumah, dia adalah seorang mahasiswa di Jakarta. Ia pulang karena sudah beberapa bulan tidak pulang kampung, sekaligus ingin memberitahu kepada kedua orang tuanya mengenai penyakit ginjal yang ia idap. Ia baru mengetahui adanya penyakit itu setelah beberapa minggu yang lalu ia memeriksakannya.
“Ayah, ada hal penting yang ingin Bujang katakan.” Kata Bujang ketika sudah berhadapan dengan ayahnya.
“Hmm… Tapi sebelum kamu mengatakannya, Ayah ingin menyampaikan pesan dari kakekmu ketika kemarin dia mendengar kamu akan pulang.” Kata Ayah si Bujang.
“Kalau memang begitu, katakan saja apa yang dipesankan Kakek, Ayah.” Ujar Bujang.
“Begini, Nak. Seminggu lagi Pacu Jalur akan dimulai. Kakekm ingin melihatmu menjadi anak pacu tahun ini. Meski bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting ia ingin melihatmu berpacu. Ia ingin kamu seperti dia dan ayah dulu. Selain mantan anak pacu, tahun ini kakekmu juga menjadi pembuat jalur kampung kita. Jadi ia sangat berharap kamu bersedia menjadi anak pacu.” Ayahnya menjelaskan perihal tersebut.
Ayah si Bujang kemudian bertanya “Jadi, bagaimana ? Kamu mau menjadi anak pacu ? Kali ini saja tidak apa-apa, setelah itu baru kamu bisa kembali ke Jakarta.”
Karena kaget dan bingung dengan apa yang disampaikan ayahnya itu, Bujang menunduk. Dalam pikiranya berkecamuk antara apakah ia menolak dan mengatakan perihal penyakitnya atau ia menyanggupinya dan tetap menyembunyikan perihal penyakit yang menyerangnya.
“Bujang, bagaimana ? Kamu bersedia menjadi anak Pacu ? Sebenarnya ayah sangat berharap kamu menyanggupi permintaan kakekmu. Ayah juga sangat ingin melihatmu mengayuh dayungmu digelanggang pacu. Walaupun tidak terlatih, tapi ayah yakin kamu bisa karena kamu sudah terbiasa mendayung dari kecil.” Kata Ayahnya mengagetkan Bujang yang sedang bingung.
“Hmm… Baiklah, Ayah. Aku akan ikut menjadi anak pacu sesuai permintaan Kakek.” Jawab Bujang sekenanya.
“Bagus, kalau memang kamu bersedia. Besok pagi kamu langsung ikut berlatih saja. Kakekmu pasti sudah menunggumu disana.” Kata Ayah si Bujang begitu gembira.
“Tapi, tadi kamu ingin mengatakan sesuatu pada Ayah. Perihal apa itu, Bujang” tanyanya lagi.
“Hmm…Tidak terlalu penting kok, Ayah.” Jawab Bujang gugup.
“Kalau begitu sekarang kamu cepat istirahat, siapkan energimu untuk besok.” Kata Ayah si Bujang.
“Baik, Ayah.” Jawab Bujang sambil meninggalkan ayahnya sambil terus menunduk, memikirkan bagaimana caranya dia mengatakan kepada ayahnya bahwa ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Sekaligus mengatakan bahwa dia tak boleh lagi melakukan kegiatan yang melelahkannya, tapi ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang ingin melihat cucu satu-satunya ini mengangkat tangan mengacungkan pendayungnya di gelanggang pacu.
Malam itu, mata Bujang seakan ikut berkecamuk seperti pikirannya. Tidak mau terpejam, sampai lewat dari jam 2 dia baru bisa memejamkannya. Dia baru terbangun ketika kumandang adzan bersahutan diseantero kampung. Dengan mata yang setengah terpejam ia keluar kamar dan menuju tempat wudhu. Setelah shalat subuh, ternyata pikirannya masih belum tenang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi menuju tempat latihan anak-anak pacu kampungnya.
“Nah, itu dia Bujang. Kalau begitu dia bias menggantikan Ujang yang sekarang sedang sakit.” Begitu kata kakek ketika Bujang baru tiba di tempat latihan itu.
Bujang sudah mengenal mereka semua yang ada di tempat latihan itu, karenanya mudah saja ia bergabung dengan percakapan. Sampai akhirnya mereka memulai latihan pagi itu. Setelah latihan selesai, Bujang merasa sangat lemah.
“Bujang, kamu sepertinya pucat sekali. Kamu sakit ?” Tanya kakek Bujang khawatir
“Tidak, Kek. Mungkin kelelahan saja.” Jawab Bujang lirih. Dia tak ingin mengatakan yang sebenarnya pada kakeknya.
“Oh, kalau begitu cepatlah pulang dan segera istirahat. Besok kita masih latihan lagi.” Kata kakek Bujang.
“Iya, kek.” Jawab Bujang sambil berdiri. Bujang segera mempercepat langkah gontainya menuju rumahnya. Menguatkan keadaannya, meskipun ia sungguh-sungguh tersiksa.
Begitu setiap hari, sampai akhirnya hari yang ditunggu tiba. Meskipun Bujang sudah merasa keadaannya hampir tidak mungkin untuk ikut mendayung jalur, tapi ia masih ingin mewujudkan harapan kakek dan ayahnya itu. Dengan senyum pucatnya, ia menatap kakek dan ayahnya yang ada di barisan penonton di tribun itu sebelum jalurnya dilepas.
Terus mendayung, tak peduli lagi dengan semakin lemah dirinya. Bujang terus berusaha mengimbangi kekuatan teman-temannya. Sementara di barisan penonton, Ayah dan Kakeknya bersorak kegirangan, karena melihat jalur dari kampungnya itu melaju jauh meninggalkan lawannya. Sampai akhirnya jalur si Bujang masuk di pancang finish. Sementara semua anak pacu mengangkat dayungnya, terlihat satu anak pacu yang tertunduk lemah di jalur itu.
***
“Begitulah ceritanya, Nak. Sampai sekarang bapak sangat menyesali kejadian itu, Nak. Coba pada saat itu Bapak mendengar dulu apa yang ingin dikatakan si Bujang, hal itu pasti tidak akan terjadi.” terang Bapak yang ada dismpingku itu sambil menyeka air matanya.
“Sudahlah, Pak. Itu semua memang sudah ketentuan dari Allah. Bapak harus tetap bersabar, ya.” Jawabku menenangkan bapak itu.
Aku kembali melayangkan pandanganku ke arah jauh sana, tapi tatapku kini kosong.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Kepribadian dari Tulisan..

Setiap tulisan yang di buat oleh seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut.. Teknik ini di namakan Grafologi.
Dan tentu nya butuh pembelajaran untuk mengerti.
Bagaimanakah cara membaca nya? Mungkin sebagian dari teman teman ingin tahu kepribadian orang dari gaya menulisnya..

Grafologi adalah ilmu yang mempelajari karakter seseorang dengan cara menganalisa tulisan tangannya, buku pertama tentang grafologi ditulis oleh Camillo Baldi, seorang dokter asal Itali pada tahun 1622. Tahun 1872, Jean Michon menerbitkan bukunya yang menjadi buku pokok grafologi pada saat itu. Tak lama kemudian, universitas universitas di Eropa mulai memberi gelar Ph.D. atau Master di bidang ini.

Ada dua metode untuk menilai karakter dan kepribadian lewat ilmu ini, yaitu teknik Jerman dan teknik Perancis. Metode Jerman dengan cara melihat secara keseluruhan tulisan seseorang. Sedangkan pada teknik Perancis cenderung menganalisa per huruf lalu digabungkan. Seorang pemula biasanya mempelajari teknik Perancis terlebih dahulu.

Menurut riset, keakuratan analisa grafologi mencapai 80-90%.

Beberapa sifat yang bisa dilihat lewat tulisan seseorang:

1. Arah kemiringan huruf

Ke kanan = ekspresif, emosional

Tegak = menahan diri, emosi sedang

Ke kiri = menutup diri

Ke segala arah dalam 1 kalimat = tidak konsisten

Ke segala arah dalam 1 kata = ada masalah dengan kepribadiannya

2. Bentuk umum huruf-huruf

Bulat atau melingkar = alami, easygoing

Bersudut tajam = agresif, to the point, energi kuat

Bujursangkar = realistis, praktek berdasar pengalaman

Coretan tak beraturan = artistik, tidak punya standar

3. Huruf-huruf bersambung atau tidak

Bersambung seluruhnya = sosial, suka bicara dan bertemu dengan orang banyak

Sebagian bersambung sebagian lepas = pemalu, idealis yang agak sulit membina hubungan (terlebih hubungan spesial).

Lepas seluruhnya = berpikir sebelum bertindak, cerdas, seksama

4. Spasi antar kata

Berjarak tegas = suka berbicara (mungkin orang yang selalu sibuk?)

Rapat/Seolah tidak berjarak = tidak sabaran, percaya diri dan cepat bertindak

5. Jarak vertikal antar baris tulisan

Sangat jauh = terisolasi, menutup diri, bahkan mungkin anti sosial

Cukup berjarak sehingga huruf di baris atas tidak bersentuhan dengan baris di bawahnya = boros, suka bicara

Berjarak rapat sehingga ujung bawah huruf ‘y’, ‘g’, menyentuh ujung atas huruf ‘h’, ‘t’ = organisator yang baik

6. Interpretasi huruf ‘t’

Letak palang (-) pada kail ‘t’

- Cenderung ke kiri = pribadi waspada, tidak mudah percaya

- Tepat di tengah = pribadi yang kurang orisinil tapi sangat bertanggung jawab

- Cenderung ke kanan = pribadi handal, teliti, mampu memimpin

Panjang kail ‘t’ menunjukkan kemampuan potensial untuk mencapai target.

Tinggi-rendah palang (-) pada kail ‘t’

- Rendah = setting target lebih rendah dari kemampuan sebenarnya (kurang percaya diri atau pemalas)

- Tinggi = setting target tinggi tapi juga diimbangi oleh kemampuan

- Di atas kail = setting target lebih tinggi dibanding kemampuan

7. Arah tulisan pada kertas

Naik/menanjak = energik, optimis, tegas

Tetap/lurus = perfeksionis, sulit bergaul

Turun = seorang yang tertekan atau lelah, kemungkinan menutup diri

8. Tekanan saat menulis

Makin kuat tekanan, makin besar intensitas emosional penulisnya.

9. Ukuran huruf

Makin kecil huruf yang ditulis, maka makin besar tingkat konsenterasi si penulis, begitu pula sebaliknya.

10. Sedikit tentang huruf “O”

- Adanya rahasia ditunjukkan oleh lingkaran kecil pada huruf “O”

- Kebohongan ditunjukkan oleh lingkaran huruf “O” yang mengarah ke kanan

Sumber : http://prihatini.wordpress.com/2008/02/27/grafologi/